PerformancingAds

Saturday, April 10, 2010

Getar Pertama

Ternyata lebih sulit untuk menulis daripada berbicara.

Kenangan-kenangan masa lalu memang begitu membekas dalam benakku. Sudah sekian lama kenangan-kenangan itu tertidur dengan lelapnya dalam sudut-sudut otakku, sampai aku sendiri kadang terlupa kalo masih ada kenangan-kenangan masa lalu. Salah satu kenangan yang masih membekas dalam benakku adalah ketika pertama kalinya aku merasakan getaran itu.

Aku masih ingat suasana kelas begitu gaduhnya. Sempat terdengar kabar, ada siswa pindahan yang akan menambah jumlah siswa di sekolah ini. Well, aku sendiri kurang begitu perduli. Wajarlah kalo ada siswa pindahan. Bukan sesuatu hal yang aneh.

Suasana diluar kelas begitu gaduhnya. Mungkin harus dimaklum, sudah lama sekolah kami tidak dapat siswa pindahan. Desas desus yang terdengar, dia adalah cewek, yang katanya cantik. Beberapa anak cowok sibuk membicarakan anak itu. Well, aku masih tidak perduli. Pa guru datang, waktu itu pelajaran PMP kalo tidak salah, suasana kelas pun terkendali.

Pelajaran berjalan seperti biasa, tapi belum lama berjalan, suara ketukan di pintu mengusik ketenangan belajarku. Seorang pegawai TU masuk, mohon ijin mengganggu, dia bicara sebentar dengan pa guru, lalu memanggil seseorang untuk masuk.

Terdengar jelas suara gaduh diluar kelas. Hmmm… ini pasti anak baru itu, kataku dalam hati, Heran, kayak apa sih koq anak-anak sampe heboh begitu.

Aku masih asyik menulis apa yang harus kutulis, ketika masuk sesosok gadis kedalam kelas. Suasana kelas langsung hening. Tak ada satupun yang mengeluarkan suara, bahkan untuk menelan air liur pun seolah tak sempat. Sepertinya suara pensil jatuh akan terdengar cukup keras kala itu. Hehehehehehehe…

“Anak-anak, perkenalkan. Ini murid baru di kelas ini”, suara pa guru cukup lantang terdengar dalam ruangan kelas. Sepertinya pa guru lupa untuk menurunkan volumenya.

“Hai, namaku……”, suaranya begitu bening dan lembut.

Suara itu begitu menyedot perhatianku, membuatku harus menegakkan kepala untuk melihat siapa yang berbicara. Deg… dadaku berdebar dengan anehnya. Hmmm… ada apa ini. Tidak biasanya seperti ini.

Itulah awal mula aku mengenalmu. Walaupun esok harinya kamu dipindahkan ke kelas lain, namun setiap berjumpa denganmu, getar itu selalu ada. Awal mula, getar itu begitu kerasnya. Sampai aku tak bisa mengerti mengapa harus ada getar-getar itu.

Pesonamu begitu menyedot perhatian hampir semua anak cowok di sekolah ini, termasuk aku. Tapi aneh, aku sepertinya tidak berani untuk berdekatan denganmu. Mungkin karena aku tak tahan untuk menenangkan debar-debar ini kalo ada di dekatmu, atau mungkin karena kau dari kalangan orang berada sedangkan aku hanya orang biasa. Aku tak tahu yang mana yang benar. Aku hanya bisa mendengarkan cerita-cerita anak-anak cowok yang begitu antusiasnya bercerita tentang pengalaman mereka yang berusaha menarik perhatian dirimu. Aku hanya bisa tersenyum. Namun yang aku heran, kenapa hampir semua anak cowok yang berusaha mendekatimu, hampir selalu menceritakan usaha mereka padaku. Aku tak habis pikir tentang itu.

Seiring waktu berjalan, aku mulai bisa mengendalikan debar-debar itu. Aku berusaha untuk cuek bila berhadapan denganmu, berusaha untuk tidak menatapmu, berusaha untuk tidak berinteraksi denganmu. Walau kadang terbersit keinginan untuk bisa bicara denganmu, namun tetap aku masih tidak berani. Sampai akhirnya kita berpisah karena kelulusan dan kamu pindah ke kota lain, aku tak pernah bisa untuk berbincang dengan mu.

Seiring waktu berjalan itu pula, perlahan dan pasti, getar itu beranjak dan pergi. Sebuah getar rasa yang aku masih belum mengerti mengapa itu harus ada.

Labels:

Comments on "Getar Pertama"

 

Blogger Griya Mobil Kita said ... (1:55 PM) : 

Makasih artikelnya, sangat bagus.
sewa mobil

 

post a comment